Sebagaimana anak-anak kecil pada umumnya, Shalahuddin kecil bermain. Seru. Ramai. Berlarian diiringi tawa dan canda bersama teman-temannya. Saat berlarian itu, ayahnya yang berperawakan tinggi besar mendatangi, lalu merenggut, mengangkatnya tinggi-tinggi di salah satu tangannya. “Aku menikahi ibumu,” kata sang ayah tegas, “bukan untuk membuatmu bermain-main dengan anak-anak seusiamu. Akan tetapi,” kata ayah Shalahuddin kecil, “aku menikahi ibumu agar engkau membebaskan al-Quds.” Dalam hitungan sekian detik kemudian, pegangan sang ayah pada tangan Shalahuddin dilepas, Shalahuddin terjatuh di atas tanah. “Apakah engkau merasakan sakit, wahai anakku?” tanya sang ayah. “Iya, aku merasakan sakit, Ayah.” jawab Shalahuddin. Jujur. “Lantas, mengapa engkau tidak mengerang?” lanjut sang ayah sampaikan tanya. “Tidaklah pantas bagi seorang pembebas al-Quds untuk mengerang, wahai Ayah.” pungkas Shalahuddin kecil yang disambut senyum bahagia dari bibir sang ayah. Niat. Inilah y...