Skip to main content

Posts

Didikan Sang Ayah pada Shalahuddin Al-Ayubi, Pembebas Al-Quds

Sebagaimana anak-anak kecil pada umumnya, Shalahuddin kecil bermain. Seru. Ramai. Berlarian diiringi tawa dan canda bersama teman-temannya. Saat berlarian itu, ayahnya yang berperawakan tinggi besar mendatangi, lalu merenggut, mengangkatnya tinggi-tinggi di salah satu tangannya. “Aku menikahi ibumu,” kata sang ayah tegas, “bukan untuk membuatmu bermain-main dengan anak-anak seusiamu. Akan tetapi,” kata ayah Shalahuddin kecil, “aku menikahi ibumu agar engkau membebaskan al-Quds.” Dalam hitungan sekian detik kemudian, pegangan sang ayah pada tangan Shalahuddin dilepas, Shalahuddin terjatuh di atas tanah. “Apakah engkau merasakan sakit, wahai anakku?” tanya sang ayah. “Iya, aku merasakan sakit, Ayah.” jawab Shalahuddin. Jujur. “Lantas, mengapa engkau tidak mengerang?” lanjut sang ayah sampaikan tanya. “Tidaklah pantas bagi seorang pembebas al-Quds untuk mengerang, wahai Ayah.” pungkas  Shalahuddin kecil yang disambut senyum bahagia dari bibir sang ayah. Niat. Inilah y...

Kesungguhan Ulama Dalam Belajar Agama (2/2)

Dalam menuntut ilmu agama, telah kita ketahui bahwa para ulama tidak main-main atau tenggelam dalam kemalasan. Usaha yang mereka lakukan begitu bermanfaat bagi generasi terdahulu hingga kini. Di antara para ulama lainnya yang  bisa kita teladani usahanya dalam belajar agama adalah sebagai berikut:  Sufyan ats-Tsaury Kemiskinan tidak menjadi penghalang belajar. Sedikitnya bekal tidak menghalangi perjalanan. Itu pula yang terjadi pada Sufyan ats-Tsaury (ulama generasi tabi’ tabi’in)  rahimahullah . Ia menjadi tokoh bangsa Arab. Seorang fakih dan ahli hadits. Digelari dengan  amirul mukmin fil hadits  (pemimpin orang-orang yang beriman dalam masalah hadits) tentu menggambarkan betapa tinggi kedudukannya. Sufyan berkisah, “Saat aku mulai belajar, aku mengadu (kepada Allah), ‘Ya Rabb, aku harus memiliki penghasilan. Sementara ilmu itu pergi dan menghilang. Apakah aku bekerja mencari penghasilan saja? Aku memohon kepada Allah kecukupan’. Sufyan ats-Taury ad...

Kesungguhan Ulama dalam Belajar Agama (1/2)

Saat ini, ilmu agama bukanlah prioritas utama bagi sebagian umat Islam. Tentu karena mereka tidak tahu harga dan hakikatnya. Para ulama, dari zaman sahabat Nabi ﷺ hingga saat ini, menunjukkan keseriusan yang begitu besar dan usaha yang begitu hebat untuk mempelajari agama. Usaha mereka ini, memberikan pemahaman kepada kita seberapa besar kedudukan ilmu agama menurut mereka. Seberapa mahal ilmu itu hingga layak dicurahkan usaha yang keras untuk mendapatkannya. Karena inilah ilmu tentang firman Allah ﷻ dan sabda Rasulullah ﷺ. Umar bin al-Khattab Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari bahwasanya Umar bin al-Khattab berkata, “Aku dan tetanggaku seorang Anshar (yakni Aus bin Khauli), seorang dari bani Umayyah bin Zaid, kami saling bergantian mendatangi majelis Rasulullah ﷺ. Ia datang pada suatu hari dan aku pada hari lainnya. Apabila aku yang menghadiri majelis, akan aku sampaikan kepadanya tentang wahyu dan penjelasan lainnya pada hari itu. Apabila ia yang datang, ia p...

Apakah Kita Sudah Beriman?

Tahun-tahun belakangan ini muncul beragam acara kurang berkualitas di televisi kita. Mulai dari sinetron, infotainment, reality show, yang semuanya ditayangkan setiap hari. Pagi infotaiment, siang sinetron, malamnya reality show. Masyarakat dipaksa untuk menelan beragam acara televisi yang tidak ada unsur mendidiknya. Mirisnya, banyak dari acara-acara tersebut yang dibumbui dengan adegan atau perkataan yang bernilai celaan dan hinaan kepada pihak lain. Sebut saja acara A di saluran B, hampir setiap malam reality show yang dicampur dengan musik ini ditayangkan. Penontonnya penuh hingga tumpah ruah di depan panggung acara. Mulai dari ibu-ibu, bapak-bapak, remaja dan tidak ketinggalan anak-anak mereka juga diajak turut serta. Biasanya ada bintang tamu yang khusus dihadirkan dan berbeda pada setiap acara. Mulai dari awal mulainya acara hingga selesai, acara ini hanya diisi dengan gurauan, musik, dan tidak ketinggalan hinaan atau celaan kepada bintang tamu atau sesama pembaca aca...

Potret Keluarga Teladan dalam Al-Qur’an: Keluarga Luqman

Potret keluarga Al-Qur’an berikutnya tentu sudah sering dibahas dan dijadikan rujukan bagi keluarga Muslim. Sosok ini bahkan dikenal sebagai orang yang sangat bijak. Dialah Luqman Al-Hakim. Ketiga: Keluarga Luqman Ulama berbeda pendapat apakah Luqman seorang Nabi atau hanya seorang yang bijak bestari. Pendapat terkuat adalah bahwa Luqman bukanlah seorang Nabi melainkan seorang ahli hikmah ( hakiim ). Namanya diabadikan menjadi nama salah satu surat dalam Al-Qur’an. Sebagian besar ayat-ayat dalam surat Luqman bercerita tentang nasihat-nasihat Luqman kepada anaknya. Pelajaran berharga yang dapat kita ambil di sini adalah seyogyanya pendidikan dasar pertama yang diterima oleh anak adalah datang dari orang tuanya sendiri. Orang tualah yang paling bertanggung jawab untuk mendidik dan mengarahkan anaknya ke jalan yang baik. Adapun sekolah hanyalah sebagai sarana pendukung dalam proses pendidikan anak secara formal. Jadi, selayaknya orang tua selalu memberikan nasehat-nasehat berharga ...

Jadilah Pendengar yang Baik Seperti Rasulullah

Sebagai seorang pengemban dakwah, seorang Muslim tentu ingin pesan dakwah yang ia sampakan dapat didengar dan diikuti oleh orang lain, apalagi pesan itu adalah kalimat-kalimat Allah dan Rasul-Nya. Namun sayangnya, seringkali hal itu tidak dapat terpenuhi dikarenakan komunikasi yang tidak tepat dalam menyampaikan. Maka mulailah untuk memperbaiki cara menyampaikan dakwah kita. Salah satu cara agar perkataan kita didengar adalah dengan menjadi pendengar yang baik. Mengapa? Karena sesungguhnya mayoritas manusia lebih mengutamakan seorang pendengar yang baik daripada seorang pembicara yang baik. Allah menciptakan satu lisan dan dua telinga agar kita lebih banyak mendengar daripada berbicara. Mendengar dengan baik adalah sebuah upaya yang serius untuk memahami kebenaran dan perasaan yang tersembunyi dalam sebuah ucapan. Seorang bijak pernah berkata, “Agar Anda menjadi orang penting, maka jadilah orang yang merasa bahwa pembicaraan orang lain itu penting (memerhatikan).” Rasulullah...

Kiat Menjadi Penyabar

Kesabaran adalah sesuatu yang sangat diperlukan oleh setiap manusia. Beberapa masalah bahkan hanya dapat diselesaikan ketika dihadapi bersama kesabaran. Namun, mengaplikasikan kesabaran kadang bukan hal yang mudah karena senantiasa ada godaan yang mengganggu baik datangnya dari setan ataupun hawa nafsu manusia itu sendiri yang mengajak kepada ketergesa-gesaan. Allah berfirman:  “Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah (zikrullah) hati menjadi tenang”.  (Q-S Ar-Ra’d ayat 28) Maka, mulailah proses bersabar dengan menenangkan hati mengingat Allah. Di samping itu, berikut dirangkum 7 kiat-kiat agar dalam menggapai harapan dapat diiringi dengan jiwa penyabar seperti ditulis Levin lme dalam artikel  ummi-online  : 1. Fokus kepada tujuan yang ingin dicapai Dengan memfokuskan kepada tujuan awal hingga ke tujuan akhir yang ingin dicapai menjadi motivasi kita agar tetap pada jalur yang tepat, sehingga keinginan untuk bergerak mundur atau pun ke samping akan m...